rintik hujan membasahi dinding jendela. suara gemercik air tedengar jelas ditelinga. hawa dingin pun dengan kuat merasuk kedalam ruangan. disebuah ruangan itu terdapat seseorang sedang melawan hawa dingin dengan menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
Ajeng Putri Ambarwati. itulah nama yang sangat indah pemberian orang tuanya yang sangat menyayanginya. Dia anak tunggal. apapun permintaannya selalu dipenuh. tapi dia tidak manja seperti anak-anak tunggal lainnya.
Cantik, pintar, berkulit putih, baik hati dan setiap orang yang melihatnya pasti akan berkata 'Wanita sempurna'. Setiap laki-laki yang melihatnya pasti ingin menjadi kekasih hatinya. Tapi sayang, Dia sudah memiliki tambatan hati dan mematahkan kesempatan untuk para lelaki yang terlalu berharap hihi
Rey nama panggilan kekasih ajeng yang sangat ia banggakan, cintai, sayangi. Mereka menjaling hubungan sudah sekitar satu tahun. orang tua mereka pun sudah saling menyetujui hubungan mereka. bukankah lebih baik jika hubungan itu diketahui oleh orang tua?
"Ajeng, aku ingin bicara sesuatu padamu" ucap rey pada ajeng yang sedang meminum capuccino minuman kesukaan ajeng.
"bicara apa? bicaralah. jangan ada yang ditutup-tutupi"
"tapi aku tidak yakin. aku takut kamu marah, sedih dan sebagainya"
"apa yang ingin kau katakan? aku janji tidak akan sedih maupun marah" kata ajeng sambil tersenyum.
"aku................." ucap Rey tidak sanggup mengucapkannya.
"apa sayang? bukankah aku sudah berjanji tidak akan sedih maupun marah?"
"oke sayang. begini. aku akan melanjutkan kuliahku dijogja"
"mengapa? apakah kuliahmu di Bandung tidak bagus?"
"bukan begitu Jeng. Bandung memang indah. kuliahku baik-baik saja. Bandung juga memperkenalkan aku denganmu"
"Lalu apakah kamu akan menemuiku disini. di Bandung. kota dimana cinta kita dipertemukan?" ucap Ajeng sambil menahan tangis.
"Ajeng, kau jangan menangis. aku janji akan menemuimu setiap 6 bulan sekali. cafe ini yang akan menjadi saksi kalo aku berjanji"
"Kapan rencananya kau berangkat?"
"besok" sambil menghela nafas.
"Baiklah. tapi kau janji akan terus menghubungiku dan setia padaku"
" ya aku janji"
Keesokan harinya, pemberangkatan Rey ke Jogja memberatkan hati Ajeng. sebenarnya Ajeng tidak rela, tapi apa mau dikata. mungkin ini yang terbaik untuk Rey demi masa depan yang mungkin akan dihabiskan bersamanya. Menangis sejadi-jadinya. yang biasanya bersama, kita hanya bisa bersama via jejaring sosial atau telfon.
satu bulan, tiga bulan, 6bulan. Ajeng sangat senang ketika memasuki bulan ke 6. itu artinya Ia akan bertemu dengan belahan jiwanya yang sudah lama merantau ke daerah istimewa. Ajeng pun bersiap-siap untuk ke cafe terakhir Ia bertemu dengan Rey. tempat itu juga yang menjadi saksi bahwa Rey berjanji akan datang 6bulan sekali. waktu sudah menunjukan pukul 19.00 waktunya Ajeng untuk pergi ke cafe itu.
satu jam, dua jam, tiga jam. Ajeng menunggu Rey tapi nihil. tidak ada tanda-tanda batang hidung Rey terlihat. Ajeng tetap menunggu. sampai pukul 23.00 pun Ajeng masih menunggu.
"Apa kau lupa tentang janjimu Rey" ucapnya sambil menatap jendela yang terlihat basah. perlahan pelupuk matanya terisi air mata. Ia memutuskan untuk pulang karena jarum jam sudah menunjukan pukul 23.30.
sesampai dirumah Ajeng ingin menghubungi Rey. Tapi Ajeng memutuskan untuk besok saja menghubungi Rey karena ini sudah terlalu larut.
Keesokan harinya, Ajeng mencoba menghubungi Rey.
tuttt.......tutt.......tutt......
"Hallo"
"Rey?"
"Ya?"
"kau dimana?"
"Aku ada di Bandung"
"oh, Kenapa tadi malam kau tidak datang ke cafe?"
"maaf sayang, aku harus menemani ibuku untuk berbelanja"
berbelanja? bukankah biasanya Ibunya Rey berbelanja sendiri, atau ditemani oleh pembantu.
"Hallo" ucap rey.
"eh iya rey"
"kamu mau kan maafin aku?"
"iya rey, aku sudah memaafkanmu. kapan kita bisa bertemu?"
"entahlah Jeng, kali ini aku di Bandung benar-benar sibuk"
"yasudahlah. bagaimana kalau aku kerumahmu?"
"untuk apa?"
"aku rindu sayang"
"jangan sayang, aku jarang dirumah"
kenapa Rey ini, aku ingin sekali kerumahnya tapi kenapa tidak boleh?
"baiklah sayang, tidak apa-apa"
"sudah dulu ya sayang, aku mau menemani mamah jalan-jalan"
ha? jalan-jalan? tidak biasanya Rey jalan-jalan bersama ibunya.
"Ayo sayang kita berangkat" ucap suara yang ada disebrang sana.
apa itu? perempuan? kurasa aku salah dengar. tapi kata-kata itu sangat jelas terdengar. Apakah rey punya perempuan lain? tidak, mungkin itu hanya lamunanku saja. aku percaya Rey tidak akan berselingkuh.
Entah apa yang ada didalam diriku, tiba-tiba aku ingin menuju kerumah Rey walau dilarang olehnya. Aku pun bersiap-siap untuk menuju rumah Rey.
"Assalamu'alaikum" ucap Ajeng sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam" jawab seorang pembantu yang sudah aku kenal. mungkin karena aku (dulu) sering main kesini.
"Tante Dina ada mbak?"
"ada mbak, masuk ke dalam aja. ada diruang keluarga"
"terima kasih ya mba"
aku pun menuju ruang keluarga. disitu kebanyakan adalah perabotan tradisional jawa yang terkesan mewah.
"pagi tante" ucapku sambil tersenyum pada tante Dina.
"eh, pagi sayang. tumben kamu kesini nak? ada apa?" jawab Tante Dina dengan nada yang bijaksana.
"engga papa tante, aku cuma pengen main aja kesini. lama nih ga kerumah tante. kangen"
"haha bagaimana kabar ayah-ibumu? sedang ada dimana mereka? mereka itu terlalu sibuk mengurusi bisnisnya kan?"
"baik tante, mereka sedang ada di Samarinda"
"oia sayang, tante mau tanya sesuatu" ucap Tante Dina yang membuat Ajeng lumayan deg-degan.
"tante mau tanya apa?"
"emangnya kamu udah ga berhubungan sama Rey lagi yah?" tanya Tante Dina yang membuat aku langsung kaget.
"mmm.. memangnya kenapa tante?"
"soalnya Rey dari Jogja bawa perempuan yang katanya pacar barunya. pas tante tanya kenapa Rey putus sama kamu, dia malah mengalihkan pembicaraan"
sungguh kejam Rey. aku tak percaya kenapa dia begitu tega melakukan itu terhadapku. kurang apa aku? padahal aku sudah memberikan hatiku sepenuhnya untuknya.
"kita mungkin tidak ditakdirkan lagi untuk bersama tante" kata Ajeng dengan senyum terpaksa.
"tapi tante lebih percaya kamu nak. kamu baik, menyenangkan, kamu bisa menemani Rey kapan saja"
"tapi itulah takdir yang diberikan oleh Tuhan. Tuhan merencanakan yang terbaik untuk aku dan Rey"
"tapi tante ingin kamu tetap Ajeng yang dulu. yang masih mau datang kerumah ini"
"aku akan sering datang jika tante ingin dan jika aku kangen tante tentunya haha" ucap Ajeng sambil menutupi rasa sakit yang sangat mendalam.
"kalau begitu saya pamit pulang dulu tante" kata Ajeng sambil mencium tangan tante Dina yang sangat lembut.
"kok buru-buru sih nak? ga makan siang bareng sekalian?" tawar tante Dina.
"tidak tante, terima kasih atas tawarannya"
"yasudah. hati-hati dijalan ya nak"
Ajeng pun langsung meninggalkan rumah tante Dina sambil menahan tangis.
tega sekali kau Rey. aku sangat mencintaimu tapi kenapa kamu mengkhianatinya? mana janjimu akan setia padaku?
Ajeng ternyata tidak langsung kerumah. Ia menuju cafe dimana rey pernah mengucapkan janji yang kini sudah Rey ingkari. Setelah masuk ke dalam cafe tersebut. Ajeng sekilas melihat sekeliling cafe yang penuh dengan remaja-remaja yang ingin makan atau sekedar nongkrong.
siapa itu? seperti penah mengenalnya? kenapa orang itu mirip dengan Rey? bersama siapa dia?
Ajeng pun menuju tempat Rey duduk bersama perempuan yang mungkin itu adalah kekasih barunya.
"hallo Rey" sapa Ajeng pada Rey.
"Ajeng? nga... ngapain ka...kamu disini?" jawab Rey kaget.
"aku disini karena hatiku"
"kenalin Jeng, Ini Diana. Diana. Ini Ajeng" Rey memperkenalkan perempuan itu.
"Hallo Ajeng. Aku Diana. aku kekasih Rey" Diana memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya pada Ajeng.
"Ajeng"
sungguh aku tidak tahan dengan pemandangan ini. rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya.
"Diana, apakah aku boleh meminjam Rey sebentar?" kataku sambil tersenyum pada Diana.
"baiklah Ajeng. aku tau kalian lama tidak berjumpa. aku akan menunggu disini" jawab Diana dengan nada yang sangat lembut. Mungkin karena dia Orang Jogja asli.
"terima kasih diana"
Ajeng pun langsung memberi kode pada Rey agar Rey mengikutinya. setelah sampai tempat yang ternyata adalah tempat terakhir Ajeng bertemu Rey dan tempat itu juga yang menjadi saksi bahwa Rey telah berjanji.
"masih ingat kejadian 6bulan lalu Rey? disini kamu berjanji untuk setia padamu. kamu akan menemui aku disini. tapi kenapa berbeda Rey? kenapa?" Ucap Ajeng sambil menangis.
"maafkan aku Ajeng" kata rey menunduk.
"Aku memang ga sempurna Rey. tapi cinta aku ke kamu begitu sempurna. aku nunggu kamu disini Rey. aku nunggu kamu ribuan detik"
"maafkan aku Ajeng. aku tidak bermaksud untuk melakukan ini"
"disini Rey, kamu mengucapkan janji itu. tapi mana Rey? mana? janji kamu malah kamu ingkari sendiri"
"maaf Ajeng"
"aku sudah memaafkanmu Rey karena aku mencintaimu, menyayangimu"
"maaf karena aku tidak bisa mencintaimu lagi Jeng"
"aku tau itu Rey. aku memang sudah khawatir hal ini akan terjadi. aku ragu untuk melepasmu ke Jogja. disini aku memikirkan kamu"
"sudah Ajeng. mungkin kamu akan mendapat yang lebih baik dari aku" ucap rey sambil mengusap air mata.
"kenapa Rey? disaat aku sangat mencintaimu, kau malah mencintai perempuan lain? sakit Rey. sakit. disaat aku disini memikirkanmu, mengkhawatirkanmu. kau malah asik dengan perempuan lain. Kau jahat Rey, jahat" kata Ajeng kembali menangis.
"aku memang jahat Ajeng. aku tidak pantas untukmu. aku terlalu kejam untuk wanita yang tulus mencintai aku"
ribuan tetes air mata telah Ajeng keluarkan untuk Rey yang sudah resmi menjadi mantan.
"sudahlah Rey. aku akan mencoba ikhlas. jika itu yang terbaik untukmu. jika itu yang membuatmu bahagia. aku akan coba ikhlas. tapi Rey aku minta beberapa permintaan" ucap Ajeng sambil menghapus air matanya.
"apa itu Ajeng? katakanlah. aku akan memenuhinya dan tempat ini juga yang akan menjadi saksi"
"bahagiakanlah Diana seperti kau membahagiakan aku dulu. Jangan biarkan setetes airmata pun keluar dari matanya dan jangan melarang aku untuk tetap mencintaimu"
"baiklah Ajeng. kalo itu maumu. aku akan menepatinya dan aku tidak akan mengingkarinya lagi"
Ajeng hanya tersenyum lalu ia meninggalkan Rey pergi sambil menengok ke belakang ketika Rey sedang memeluk kekasih barunya itu. Diana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar